Showing posts with label MAIYAH. Show all posts
Showing posts with label MAIYAH. Show all posts

01 November 2012

Fenomena Idul Adha dan Penyembelihan Kurban

Fenomena Idul Adha dan Penyembelihan Kurban

Fenomena Idul Adha dan Penyembelihan Kurban di blog Jogja Belajar ini diposting oleh Horiq Sobarqah 1 November 2012. ( 5.0 )


Saat ini manusia selalu dirundung problem bahasa. Bahkanpun para penyair, yang biasanya berada di dalam “istana” eksklusif yang jauh dari politik dan masyarakat umum. Dewasa ini problematika budaya-bahasa dan politik-bahasa berkembang dan membengkak sedemikian rupa, sehingga sangat menyempitkan kemungkinan kekayaan komunikasi.

Dahulu kala penyair kontemplatif Goenawan Muhamad kasih dalil: “Musuh utama penyair adalah salah cetak”. Kalau “binatang jalang” salah cetak menjadi “binatang jalan”, atau “represi” menjadi “ekspresi”, maka habislah semuanya. Tak hanya penyair, semua penulispun mengalami tantangan yang sama. Para pelukispun bulan-bulan ini harus hati-hati: sementara singkirkan dulu cat hijau, kuning dan merah.

Saya bukan benar-benar seorang penyair, tetapi sering disuruh membuat  kalimat-kalimat yang nanti orang menganggapnya puisi. Dan akhir-akhir ini rasa takut saya membengkak setiap kali hendak memutuskan menggunakan suatu kosa kata atau susunan kalimat. Ketakutan saya itu karena pada dasarnya saya sangat menghormati ajaran para leluhur bahwa dalam hidup ini kita harus lebih banyak mendengarkan orang dibanding mengomongi orang.

Bahkan Allah sendiri sangat lebih menekankan fungsi sami’ (mendengar) dibanding bashir (melihat). Jadi orang omong apa saja selalu saya anggap penting, karena mereka sudah besar, sudah dewasa, sudah sangat mampu berpikir dan memutuskan segala sesuatu yang hendak diungkapkan. Kalau saya acuhkan dan abaikan, itu kekeliruan sosial.

Suatu saat saya bikin kalimat: “Muhammadkan hamba ya Allah….” Seseorang menuduh saya sok suci. Manusia biasa yang banyak dosa kok pengin jadi Nabi. Padahal yang dimaksud “muhammadkan hamba” adalah upaya dan doa mohon perkenan Allah agar membantu kita memakai wacana kepribadian Muhammad untuk bisa kita terapkan dalam diri kita.

Allah sendiri bahkan kabarnya menciptakan manusia dengan formula seperti “miniatur” Dia sendiri. Itu berarti merupakan anjuran agar kelengkapan dan komprehensi-dialektis asma Allah kita jadikan acuan. Jadi, kita membina perilaku ini berdasarkan cakrawala karakter Allah sendiri. Ia rahman rahim, penuh kasih sayang. Tapi Ia juga bikin neraka, Ia juga qabidl (penahan rejeki), Ia juga syadid (penyiksa), Ia juga mutakabbir (pentakabur) — namun semua watak yang dalam pandangan kita seolah negatif itu selalu berfungsi positif karena diterapkan pada tempat dan konteksnya yang tepat.

Mentang-mentang kita menganut ajaran kasih sayang rahman rahim maka lantas kita menolak bikin rumah penjara, mengampuni koruptor, membatalkan pasal-pasal hukum mengenai perampokan, penindasan atau kekejaman. Lembaga Pemasyarakatan itu bukan institusi kekejaman. Nerakanya Allah adalah wujud dialektis dari kasih sayangNya juga. Cara menyayangi anak yang bersalah adalah dengan menghukumnya.

Tapi hal-hal semacam itu tidak selalu gampang dijelaskan kepada manusia. Sehingga tatkala untuk Idul Adha saya mau bikin kalimat “Ismailkan hamba ya Rabbi….” — saya begitu kawatir orang akan salah paham. Padahal maksud saya adalah kalau saya disembelih dalam pengalaman sejarah, saya mohon kepada Allah agar kambing yang tersembelih.

Gelar Nabi Ismail AS adalah dzabihullah. Sembelihan Allah. Saya ingin sekali menggunakannya untuk judul suatu tulisan, namun dengan perasaan was-was. Apakah Allah tukang sembelih? Apakah Allah itu Maha Jagal, sebagaimana dalam konteks lain saya juga takut mengumumkan idiom wallohu khoirul makirin, Allah itu Maha Pemakar?

Mungkin sudah ratusan kali kita mengkomunikasikan bahwa untuk urusan tertentu peradaban kita ini pra-Ibrahim. Kalau Ibrahim AS. hidup sekarang dan pada suatu pagi menyembelih anaknya, para tetangga segera akan melaporkannya ke Polsek, atau mungkin langsung memukulinya sampai meninggal. Di zaman ini kita tidak memiliki perangkat ilmu pengetahuan dan tingkat legalitas hukum yang sanggup mengakomodasikan fenomena (vertikal) Ibrahim dan Ismail.

Jangankan fenomena penyembelihan. Sedangkan kita suatu hari nongkrong di dekat kandang kambing saja orang lantas menyimpulkan kita adalah kambing. Saya berpapasan dengan angin pada suatu siang dan omong-omong sejenak, orang di sekitar saya langsung menyangka saya masuk angin. Orang sekarang gila label.

Kalau saya jum’atan, saya memutuskan untuk berjamaah hanya dengan kaum gelandangan. Kalau berjum’atan dengan pedagang kaki lima, saya kawatir ada yang modalnya dari Pak Carik sehingga nanti saya ikut dituduh direkrut oleh Pak Carik. Kalau ada satpam dalam jamaah di mana saya ikut, nanti saya dituduh orangnya pejabat ini atau pengusaha itu di mana satpam itu bekerja. Susahnya yang nuduh saya itu bukannya para gelandangan, melainkan orang yang memang benar-benar bekerja di kekuasaan dan konglomerasi.

Bahkan terakhir saya mendengar label baru bahwa saya adalah intel karena suka bergaul dengan gelandangan, yang sebagian dari mereka adalah memang intel yang menyamar jadi gelandangan.

Demikianlah saya senantiasa bersetia mendengarkan orang lain. Dan itulah sumber pengetahuan hidup saya. Tapi susahnya, orang sering tak bisa diduga apa maunya. Pernyataan orang juga tidak selalu mencerminkan sikap dan kemauannya. Kalau seseorang bilang “Nun, kamu sekarang bukan temanku lagi”, lantas saya percaya, saya terapkan, sehingga ketika bertemu di jalan saya tidak berani menegur dan tatkala dia membutuhkan pertolongan saya tidak menolong — ternyata reaksinya begini: “Kamu memang sombong! Kamu tidak berperikemanusiaan, tidak peka terhadap kebutuhan orang lain”.
Bahkan ketika saya butuh pertolongan namun tidak merasa berhak minta tolong kepadanya, ia berkomentar: “Dia memang sok kuat. Egosentris. Tidak merasa bahwa orang hidup itu saling membutuhkan. Disangkanya saya sedemikian lemahnya sehingga tidak bisa menolong dia!”

Saya melihat itu semua adalah peristiwa cinta. Kalau kita tidak menimba, orang yang kita cintai dan mencintai kita marah: “Kok nggak mau nimba sih?”. Kalau kemudian kita menimba, ia tuding: “Terpaksa ya nimbanya!”. Lantas kita hentikan menimba, ia bersungut-sungut: “Memang aslinya tidak mau menimba!”.

Cinta itu terkadang over-sensitif. Kalau yang terlibat dalam percintaan adalah orang besar, lebih susah lagi. Kalau bersikap biasa-biasa saja, ia naik pitam: “Nggak tahu siapa saya ya! Belajar menghormati dikit kek!” Kalau kemudian kita membungkuk menghormatinya, ia tuduh: “Nyindir ya! Saya tidak mau kau menghina dengan pura-pura menghormatiku!”. Kemudian kita kembali bersikap biasa, dan ia serbu kita: “Dasar tak tahu diri!”

Lama-lama saya “curiga”, kayaknya doa saya dikabulkan oleh Allah. Mudah-mudahan saya adalah the tiny Ismail yang sedang disembelih.

Oleh: Emha Ainun Nadjib
Artikel terkait: http://www.caknun.com/2012/sembelihan-allah/

19 October 2012

Download MP3 dan Lirik Lagu Shohibu Baiti

Lirik Lagu Shohibu Baiti beserta Artinya


SHOHIBU BAITIY merupakan lagu kebangsaan semesta maiyah. 

Koor: Cak Nun & Kiai Kanjeng (CNKK)


SHÔHIBU BAYTÎ (3x), YÂ SHÔHIBU BAYTÎ
Tuan rumah (hati)ku (3x), wahai Tuan rumah (hati)ku. 


IMÂMU HAYÂTÎ (3x), YÂ IMÂMU HAYÂTÎ
Pemimpin hidupku (3x), wahai Pemimpin hidupku. 


MURSYIDU ÎMÂNÎ, ANTA SYAMSU QOLBÎ, QOMARU FU`ÂDÎ,
YÂ QURROTU ‘AYNÎ
Penuntun imanku, Engkau Matahari qalbuku, Rembulan hatiku,
wahai Penyejuk mataku. 


SYÂFI’U NASHÎBÎ, YÂ MAWLÂ JIHÂDÎ, UFUQU SYAWQÎ,
YÂ BÂBU ÂKHIROTÎ
Penolong nasibku, wahai Muara perjuanganku, Cakrawala rinduku,
wahai Pintu akhirat/keabadianku.

| DOWNLOAD | MP3 (6.03 MB) 






Download MP3 dan Lirik Lagu Shohibu Baiti, MP3 dan Lirik Lagu Shohibu Baiti dapat diunduh secara gratis. Download MP3 dan Lirik Lagu Shohibu Baiti diposkting oleh Horiq Sobarqah 24 Oktober 2012. ( 5.0 )


28 August 2012

Maaf maafan dalam Idul Fithri

Maaf maafan

Karena sekarang masih bulan Syawal maka kita perlu tau makna dari maaf-maafan pada hari raya idul fithri ini. Artikel ini memuat reportase maiyah yaitu tentang maaf memaafkan khusunya dalam Idul Fithri:
Tulisan Emha Ainun Nadjib (cak nun) yang berjudul Dimaafkan, Memaafkan, dan Tidak Memaafkan dalam komunitas kenduri cinta jakarta memuat makna dimaafkan, memaafkan,  dan tidak memaafkan.

Dimaafkan adalah kelegaan memperoleh rizqi, tapi Memaafkan adalah perjuangan yang sering tidak ringan dan membuat kita penasaran kepada diri sendiri. Tidak Memaafkan adalah suatu situasi psikologis dimana hati kita menggumpal, alias menjadi gumpalan, atau terdapat gumpalan di wilayah ruhani-Nya. Gumpalan itu benda padat, sedangkan gumpalan daging yang kita sebut dengan hati diantara dada dan perut itu bukanlah hati, melainkan indikator fisik dari suatu pengertian ruhani tentang gaib. Jika hati hanyalan gumpalan daging; ia tak bisa dimuati oleh iman atau cinta. Maka gumpalan daging itu sekedar tanda syari’at hati, sedangkan hakikatnya adalah watak ruhani.

Didalam kehidupan manusia, yang biasanya berupa gumpalan dalam hati, misalnya, adalah watak dendam. Dendam bersumber dari mitos tentang harga diri dan kelemahan jiwa. Manusia terlalu ‘GR’ atas dirinya sendiri, dan tidak begitu percaya bahwa ia ‘faqir indallah’: ’musnah dan menguap’ dihadapan Allah.

Kemudian cemburu. Ini watak yang juga mejadi ‘suku cadang’ dari hakikat cinta dan keindahan. Namun syari’atnya ia harus diletakkan pada konteks yang tepat. Hanya karena punya sepeda, saya tidak lantas jengkel dan cemburu kepada setiap orang yang memiliki mobil. Sambil makan di warung pinggir jalan tak usah kita hardik mereka yang duduk di kursi mengkilap sebuah restoran.

 Semoga Artikel tentang maaf - maafan dalam idul fthri ini bermanfaat amin.

29 July 2012

Misteri Waktu


Misteri Waktu
Misteri Waktu
 


Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapadalam satu hari ada 24 jam, dan dalam satu menit ada 60 detik? Inilah jawabannya. Sistem bilangan yang paling banyak digunakan jmanusia saat ini adalah sistem desimal, yaitu sebuah sistem bilangan berbasis 10. Namun untuk mengukur waktu  kita menggunakan sistem duodesimal(basis 12) dan sexadesimal (basis 60). Hal ini disebabkan karena metode untuk membagi hari diturunkan dari sistem bilangan yang diguna­kan oleh peradaban kuno Mediterania. Pada sekitar tahun 1500 SM, orang-orang Mesir kuno meng­gunakan sistem bilangan berbasis 12, dan mereka mengembangkan sebuah sistem jam matahari berbentuk seperti huruf T yang diletakkan di atas tanah aan membagi waktu antara matahari terbit dan tenggelam ke dalam 12 bagian. Para ahli sejarah berpendapat, orang-orang Mesir kuno menggunakan sistem bilangan berbasis 12 didasarkan akan jumlah siklus bulan dalam setahun atau bisa juga didasarkan akan banyaknya jumlah sendi jari manusia di tiap jari, tidak termasuk jempol yang kemungkinkan mereka berhitung hingga 12 menggunakan jempol.



Jam matahari generasi berikutnya sudah sedikit banyak merepresentasikan apa yang sekarang kita sebut dengan "jam". Sedangkan pembagian malam menjadi 12 bagian, didasarkan atas pengamatan para ahli astronomi Mesir kuno akan adanya 12 bintang di langit pada saat malam hari. Dengan membagi satu hari dan satu malam menjadi masing-masing 12 jam, maka dengan tidak langsung konsep 24 jam diperkenalkan.Namun demikian panjang hari dan panjang malam tidaklah sama, tergantung musimnya (contoh: saat musim panas hari lebih panjang dibandingkan musim dingin)
"Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. QS Saba' (34:13).  
Semaju apa jaman Nabi Sulaiman itu? Kebesaran dan kemajuan jaman Nabi Sulaiman tidak akan dapat disamai oleh gene­rasi berikutnya. Seperti dalam doa Nabi Sulaian seperti yang tercantum pada Al Qur'an Surat Shaad (38:35) la berkata: "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi (malam).

Oleh karena itu pembagian jam dalam satu hari pun berubah-ubah sesuai dengan musimnya. Sistem waktu ini disebut dengan sistem waktu musiman. Pada sekitar tahun 147-127 SM, seorang ahli astronomi Yunani bernama Hipparchus menyarankan agar banyak­nya jam dalam satu hari dibuat tetap saja yaitu sebanyak 24 jam, disebut dengan sistem waktu equinoctial. Namun sistem ini baru diterima secara luas oleh saat ditemu-kannya jam mekanik di Eropa pada abad ke-14.

Eratosthenes (276-194 SM), seorang ahli astro­nomi Yunani lainnya membagi sebuah lingkaran menjadi 60 bagian untuk membuat sistem geografis latitude. Teknik ini didasarkan atas sistem berba­sis 60 yang digunakan oleh orang-orang Babilonia yang berdiam di Mesopotamia, yang jika ditilik lebih jauh diturunkan dari sistem yang digunakan oleh  peradaban Sumeria sekitar 2000 SM. Tidak diketahui dengan pasti mengapa menggunakan system bilangan berbasis 60, namun satu dugaan mengatakan untuk kemudahan perhitungan karena angka 60 adalah merupakan angka terkecil yang dapat dibagi habis oleh 10, 12, 15, 20 dan 30.

Satu abad kemudian, Hipparchus memperkenalkan sistem longitude 360 derajat. Dan pada sekitar 130 M, Claudius Ptolemy membagi tiap derajat menjadi 60 bagian. Bagian pertama disebut dengan partes minutae primae yang artinya menit pertama, bagian yang kedua disebut partes minutae secundae atau menit kedua, dan seterusnya. Walaupun ada 60 bagian, yang digunakan ha-1 nyalah 2 bagian yang pertama saja dimana bagian 5 yang pertama menjadi menit, dan bagian yang kedua menjadi detik. Sedangkan sisa 58 bagian yang lainnya membentuk satuan waktu yang lebih kecil daripada detik.
Sistem waktu ini membutuhkan waktu berabad-abad untuk tersebar luas penggunaannya. Bahkan jam penunjuk waktu pertama yang menampilkan menit dibuat pertama kali pada abad ke-16. Sistem waktu ini digunakan hingga sekarang oleh kita manusia modern.

Diambil dari Buletin Cetak Mocopat Syafaat Maiyah Jogja Edisi 43

16 July 2012

Mendirikan Indonesia


Kenduri Cinta 13 Juli 2012 berjudul "Mendirikan Indonesia"

Mendirikan Indonesia Kenduri Cinta 13 Juli 2012
Pada acara Kenduri Cinta pada tanggal 13 Juli 2012 di Jakarta mengambil tema “MENDIRIKAN INDONESIA”.
Menurut Sabrang (Noe) Vokalis band Letto di acara Kenduri Cinta bulan juni lalu, dia mengatakan bahwa masa depan yang paling layak untuk dilukis adalah Surga, Paradise dalam Bahasa Inggris-nya. Menggunakan othak athik gathuk, paradise diidentikan dengan frasa para_desa (desa-desa di tempat tinggi). Desa dimana orang-orangnya masih peduli sama tetangga, masih ada gotong royong, ada rempug desa untuk memikirkan masa depan bersama, menomor-satukan kebersamaan dan tidak gampang tega. Jadi untuk melukis surga/para_desa di akhirat,  Sabrang mengajak kita untuk melukis Desa disini dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dalam literatur arab desa  sering dikatakan sebagai Qoryah ( قرية ), dan penduduk nya disebut sebagaiahlul Quro (أهل القري) atau ummul Quro (أم القري). Dalam Al-Quran, Ummul Qura disebutkan sebagai gambaran orang-orang Quraisy Makkah. Makkah adalah pusat persaingan dagang dan transaksi komersial. Keadaan ini menjadikan Makkah sebagai pusat kapitalisme, hal ini akibat dari proses korporasi antar Klan yang menguasai dan memonopoli perdagangan kawasan Bizantium. Watak ekstrim kapitalis Quraisy yang mengakumulasikan kekayaan dan memutarnya demi keuntungan individu dan korporasi-nya melahirkan ketimpangan dan kesenjangan sosial di Makkah. Ini sangat kontras dengan gambaran desa, para_desa. Dan memang Makkah lebih sering disebut sebagai sebuah Kota ketimbang sebagai sebuah Desa.

Desa di sekitar lereng Merapi berada di tempat-tempat tinggi, berbeda dengan Makkah. Awalnya, warga desa tidak membolehkan siapapun dari luar daerah datang memasuki ujung desa setelah ‘musibah’ melanda. Orang-orang kota datang hanya berwisata, melihat-lihat bekas rumah-rumah mereka yang hancur, sisa-sisa batang pohon yang mengering hangus diterjang hawa panas. Desa yang luluh lantak digerus lahar, menyisakan puing puing terkubur pasir. Setiap orang yang menyaksikan itu seakan bertanya “Apakah kiamat pernah terjadi disini?” Merapi tidak menjawab, namun seiring waktu tumbuhlah harapan baru didalam dada warga bersama tunas tunas pohon yang menghijau. Mungkin kesedihan mereka telah lenyap oleh kesuburan tanah yang meningkat drastis pasca erupsi dan berkah berupa gundukan pasir-pasir merapi yang berkualitas tinggi yang melimpah, bagaikan panen raya. Dan mereka menjadi suatu kaum yang baru setelah menjalani proses kematian. Jika ditelususri, kata ‘Kaum’ seakar dengan kata ‘Kiamat’ yang berarti berdiri dan bangkit.

Dari ilustrasi-ilustrasi diatas, nampak bahwa desa tidaklah sekedar keberadaan georafis, penduduk, pemerintahan dan adanya pengakuan dari luar. Namun apa yang mendasarinya? Apa yang menjadi landasan_berdiri kehidupan sosialnya? Seperti halnya Negara, kalaulah faktor landasan_berdiri bernegara adalah politik, kita sudah tidak menemukan diri kita sendiri dalam sistem berpolitik di Indonesia. Melainkan didikte paksa dari luar diri kita sendiri, kita sadari atupun tidak. Padahal, berdiri adalah menjadi diri sendiri. Jika faktor landasan bernegara adalah budaya, budaya sudah sedemikian abu-abu, mana wujud budaya sendiri atau dari luar sudah tidak dapat dibedakan. Apalagi faktor ekonomi,  merupakan mimpi kosong jika mengatakan bahwa mampu bangkit berlandaskan ekonomi untuk kebangkitan negara. Kebangkitan ekonomi sekarang adalah berdirinya sebagian kecil warga diatas keterpurukan panjang sebagian besar warga lainnya. Apakah proses kiamat sedang berlangsung saat ini? Seperti halnya Al-Quran menggambarkan, bahwa ketika terjadinya Kiamat maka setiap orang tidak lagi memikirkan anak, saudara, teman dan kerabat, mereka hanya memikirkan nasib diri sendiri. Kalau dipakai kerangka ini maka wujud kehidupan sosial yang dilandasi kapitalisme adalah peristiwa menjelang kiamat besar itu.

Kesadaran terhadap keadaan sosial itu, mendorong individu-individu untuk dapat berhijrah. Sebagaimana dicontohkan Rasulullah dengan berhijrah dari Makkah ke Yasrib(Madinah). Setelah mengalami penolakan keras dari Quraisy Makkah yang orientasi_hidupnya ekstrim kapitalis, di Yasrib justru Akhlaq Muhammad bin Abdullah kongkrit menjadi senyawa kehidupan sosial kaum Anshor dan Muhajirin. Sehingga terwujud hubungan individu dengan dirinya sendiri, indvidu dengan sesama, individu dengan keluarga, individu dengan komunitasnya dan seterusnya secara benar,baik dan indah di ‘Desa’ Madinah.

Hal menarik juga disampaikan oleh Yai Toto Raharjo dan Syech Nursamad pada KC Juni 2012, mengenai peristiwa Rasulullah SAW yang mengubah arah Kiblat (Al-Baqarah 142-144). “Perubahan kiblat itu – apakah Nabi Muhammad sudah punya sensitivitas politik atau apa? Bagi saya, orang perdesaan yang berusaha untuk selalu berjuang, perubahan kiblat merupakan peristiwa. Ini bisa juga menyangkut strategi, simbol, arah.” Bahwa saat ini peradaban berkiblat pada Barat dan Arab yang orientasi_hidupnya ekstrim kapitalis dalam berbagai bidang ideologi, politik dan ekonomi . Ini sangat jauh beda dengan Rosululloh SAW yang berorientasi_hidup  sejahtera, bahagia, saling menghormati dan hidup patut dalam ummatan wasathon, masyarakat penengah dalam bidang ideologi, politik dan ekonomi .

Tema terbesar Kenduri Cinta selama ini adalah“Menegakkan Cinta Menuju Indonesia Mulia”. Sebagaimana simpul-simpul Maiyah yang ada, cinta ditegakan bersama-sama tidak sekedar pada saat acara bulanan berlangsung, namun Orang-orang Maiyah senantiasa menegakkan cinta pada kehidupan kesehariannya, dalam keluarga, bertetangga, lingkungan kerja dan juga dalam hidup berbangsa. 12 tahun perjalanan KC, bukan suatu kurun yang pendek bagi sebuah komunitas non-profit oriented. Sesuai tema besar, Menegakkan Cinta bagi KC adalah gerakan Maiyah, dan Menuju Indonesia Mulia dapat dikatakan sementara ini sebagai kiblat-nya, meskipun itu semua tidak dianggap apapun oleh Indonesia.

 ……“Wahai Indonesia, kamu tidak usah menghisabku, karena aku juga tidak menghisabmu. Kamu tidak usah menghitung Kenduri Cinta, karena bagi Kenduri Cinta, kamu juga juga tidak terhitung sama sekali. Karena ada sesuatu yang lebih besar yang akan terjadi. Dimana Indonesia hanya menjadi bagian kecil dari pengembaraan jauh dan besar itu.”……. (Muhammad Ainun Nadjib, KCApril2012)

Pada KC 13 Juli 2012, dengan tema “MENDIRIKAN INDONESIA”, Indonesia disini bukan sekedar Negara, Indonesia bukan sekedar pengakuan wilayah geografis, adanya penduduk dan pemerintahan. Indonesia disini termasuk bangsa, bahasa, tanah-air disertai dengan rentetan sejarah panjang orientasi kehidupan sosial dan cita-cita pendiri(penduduk?)-nya.

 …….Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong - royong“
Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong - royong!
Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong!....... ( Ir.Soekaro, 1 Juni 1945)

MENDIRIKAN dapat dimaknai sebagai menDIRIkan, Mendirikan atau men-dirikan. KC memilih tema ini supaya kita yang selama ini enak duduk sudi beranjak berdiri. Mungkin kita yang lupa istilah gotong-royong dapat ingat lagi, syukur mau gotong-royong. Kalaupun Indonesia malah gak mau gotong-royong, atau justru makin seneng saling mengkalahkan. Ya kita-kita saja yang gotong royong, meskipun tanpa istilah gotong royong.



artikel terkait Kenduri Cinta 

05 June 2012

Gerhana Bulan Mungkin Memicu Gempa Sukabumi




JAKARTA, Gerhana Bulan Sebagian terjadi pada Senin (4/6/2012), memuncak pada pukul 18.03 WIB. Tak berselang lama setelah puncak gerhana, tepatnya pukul 18.18 WIB, gempa terjadi di Sukabumi.
Thomas Djamaluddin, peneliti di Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) dan pemerhati astronom Ma'rufin Sudibyo mengatakan, fenomena Gerhana Bulan Sebagian mungkin memicu terjadinya gempa Sukabumi.
"Mungkin. Secara temporal, waktunya bersamaan. Secara spasial, kawasan tunjaman di lepas pantai Indonesia bagian barat diketahui memiliki korelasi lebih tinggi dalam hal gempa dan Bulan baru/purnama," kata Ma'rufin
Ma'rufin mengungkapkan, Ada riset yang menyebut kawasan Indonesia bagian barat memiliki tidal stress lebih tinggi, sehingga terdapat probabilitas lebih dari 99 persen untuk terjadinya gempa saat konjungsi/oposisi Bulan.
Sementara Thomas menjelaskan, salah satu mekanismenya adalah, saat terjadi gerhana ada efek pasang maksimum di arah Bulan dan Matahari, yaitu di arah ufuk bagi wilayah selatan Jawa.
"Akibatnya, beban yang menjepit lempeng Eurasia mengendur, sehingga lempeng Indo-australia bisa menyusup ke bawahnya dan energi yang dilepaskannya yang dirasakan sebagai gempa," urai Thomas lewat jejaring sosialnya.
Thomas menegaskan, gerhana hanya mungkin menjadi pemicu terjadinya gempa, bukan sebagai penyebab. Ibaratnya, korek api di suatu waktu bisa menjadi pemicu kebarakan, bukan sebab kebakaran itu sendiri.
Lalu bagaimana dengan Supermoon? Sebelumnya dikatakan bahwa Supermoon, yang sejatinya juga purnama, dikatakan tidak menyebabkan gempa atau letusan gunung berapi.
Thomas menjelaskan bahwa memang gerhana, bulan baru, bulan purnama maupun Supermoon tidak bisa secara umum dikatakan sebagai penyebab bencana. Namun menurutnya, dalam kasus tertentu, faktor astronomi memang bisa memicu.
Beberapa kejadian gempa memang berdekatan atau bertepatan dengan bulan baru atau purnama. Gempa Aceh 26 Desember 2004 terjadi saat Purnama sementara gempa Yogyakarta 27 Mei 2006 terjadi menjelang bulan baru.
Sementara itu, gempa besar yang mengguncang Jepang tahun 2011 juga terjadi menjelang Supermoon, saat Bulan berada pada posisi terdekat dengan Bumi, berjarak sekitar 350.000 km.
Saat gempa terjadi hari ini, Bulan sejatinya juga sedang berada di jarak yang dekat dengan Bumi, hanya 0,26 persen lebih jauh dari perigee. Gerhana malam ini bisa disebut gerhana Supermoon.
Apakah memang gerhana, bulan Baru dan Supermoon berkaitan dengan gempa? Bukti empirik telah ada. Namun, kiranya masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menguraikannya.
Selama belum ada riset ilmiah yang menguraikannya, tak perlu ada kepanikan. Tanpa ada kaitan antara faktor astronomi dengan gempa, gempa itu sendiri memang perlu diwaspadai.

Sumber : KOMPAS.com

01 June 2012

Kiat Memilih Kampus Swasta dari Pak Menteri

Universitas negeri masih menjadi tujuan utama sebagian besar siswa yang ingin melanjutkan kuliah. Namun, karena terbatasnya perguruan tinggi negeri, pemerintah hanya menyediakan 600.000 kursi yang akan diperebutkan oleh siswa dari jalur undangan, ujian tulis, serta ujian mandiri.

Siswa yang tidak berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN) tak perlu berkecil hati karena kini cukup banyak perguruan tinggi swasta (PTS) yang memiliki kualitas tidak kalah dengan PTN.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, hal utama yang harus diketahui calon mahasiswa adalah memahami program studi yang akan diambilnya sesuai dengan minatnya. "Siswa harus tahu jurusan yang diminatinya, jangan sampai hanya ikut-kutan," ujarnya.

Kemudian, perhatikan pula kondisi fisik bangunan atau fasilitas kampus dan akreditasi PTS yang dituju.

"Dengan itu, kita bisa menyimpulkan mengenai kualitas. Karena tata kelola yang baik sangat terkait dengan performance akademik kampus tersebut," kata Nuh, Kamis (24/5/2012), di gedung Kemdikbud, Jakarta.

Namun, Nuh juga meminta agar para siswa tidak hanya melihat kondisi fisik dan status akreditasi, tetapi juga atmosfer akademik yang baik di kampus bersangkutan.

"Ada beberapa indikator yang bisa dipakai untuk melihat academic environment. Salah satunya melalui prestasi," pungkasnya.

Lalu, tambahnya, para siswa juga dimintanya untuk memperhatikan struktur pembiayaan di kampus yang akan dipilihnya secara utuh. Sebab, ada beberapa kampus yang memberikan biaya SPP murah, tetapi kredit per semesternya (SKS) mahal.

"Terakhir, kalau mau lebih rinci lagi, lihat siapa yang ngajar di situ. Lihat dosen tetap dan dosen luar biasanya," tutup Nuh.

Sumber:   kompas.com  

05 February 2012

Reaktor Nuklir Fukushima

Kenapa Reaktor Nuklir Fukushima Meledak ?
 
Ledakan pada reaktor nuklir di Fukushima telah terjadi tiga kali sejak gempa dengan kekuatan 9 mengguncang Jepang, Jumat (11/3/2011) tahun lalu. Ledakan pertama terjadi di reaktor nomor 1 hari Sabtu lalu, disusul ledakan di reaktor nomor tiga Senin, dan ledakan terakhir terjadi  di reaktor nomor 2, Selasa. Banyak pihak mengkhawatirkan terjadinya radiasi nuklir yang besar sebagai konsekuensi dari ledakan itu.

Namun, bagaimana sebenarnya ledakan bisa terjadi? Lalu, benarkah ledakan akan memacu bencana nuklir besar seperti yang dikhawatirkan? Untuk itu, perlu melihat beberapa hal penting terkait dengan proses ledakan reaktor, meliputi jenis reaktor, bagaimana reaktor bekerja, dan faktor yang memicu ledakan.

Staf pengajar Jurusan Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada yang kini turut dalam pengkajian keselamatan teknologi nuklir di Swedia, Dr Alexander Agung ST, M.Sc, mengungkapkan analisis sementara terkait ledakan reaktor Fukushima 1 di situs web resmi Teknik Fisika UGM.

Ia mengungkapkan bahwa Fukushima I Unit 1 merupakan PLTN berjenis BWR (boiling water reactor). Daya listrik yang mampu dihasilkan adalah 460 MW, dengan daya termal 1553 MW dan asumsi efisiensi termal 30 persen. Reaktor tersebut dibangun akhir tahun 1960-an dan beroperasi awal 1970-an.

Ia mengatakan, "Pada reaktor nuklir, energi dihasilkan dari reaksi fisi atau pembelahan inti atom." Reaksi fisi juga menghasilkan energi radioaktf yang akan meluruh. Jumlah energi yang dihasilkan dari suatu reaksi fisi adalah total dari energi fisi dan energi peluruhan radioaktif.

Besar kecilnya energi yang dihasilkan dalam reaksi fisi tergantung dari banyak sedikitnya proses fisi. Reaksi fisi bisa dikendalikan dengan batang kendali atau control rods. Jika seluruh batang kendali dimasukkan, maka reaktor akan padam, dikenal dengan istilah shut down.

Pengamanan reaktor nuklir mengenal jargon 3C, yakni Control, Cool dan Contain. Control terkait upaya mencegah peningkatan tajam energi, Cool terkait dengan upaya mendinginkan bahan bakar, dan Contain berkaitan dengan upaya menjaga bahan radioaktif agar tetap dalam reaktor.

"Perlu diingat bahwa ketiganya bisa berfungsi sebagai aspek pertahanan," katanya. Kalau kontrol tak berfungsi, maka masih ada sistem pendingin. Kemudian, jika sistem pendingin tak juga berfungsi, maka masih terdapat pengungkung reaktor yang akan mencegah lepasnya materail radioaktif.

Nah, ledakan di reaktor Fukushima 1 berhubungan dengan kegagalan pada sistem proteksi dan faktor yang berkaitan dengannya. Ketika gempa terjadi, sistem kontrol sebenarnya berhasil berfungsi dengan memadamkan reaktor sehingga reaksi fisi di dalam reaktor tak terjadi lagi.

"Akan tetapi, masih ada energi dari peluruhan radioaktif. Pada saat reaktor padam, masih ada 7 persen dari 1.553 MW, atau sebesar 107 MW," ungkapnya. Dalam kondisi tersebut, sistem pendingin seharusnya bekerja untuk mengalirkan air saat awal sistem tersebut berfungsi.

Sayangnya, sistem pendingin akhirnya ngadat setelah satu jam sebab generator listrik mati akibat tsunami. "Situasi tersebut dikenal dengan istilah LOFA (loss of flow accident), yakni pendingin tetap ada, namun tidak mengalir," papar Alex. Akibatnya panas tak bisa ditransfer.

Menurut Alex, ada dua fenomena yang bisa terjadi. Pertama, naiknya suhu pendingin memicu pendidihan sehingga bagian atas reaktor tertutup uap air. "Jika ini terjadi, kemungkinan pelelehan bahan bakar besar. Jika bahan bakar meleleh, bahan radioaktif akan terlepas ke sistem pendingin," jelas Alex.

Kemungkinan kedua adalah kenaikan suhu selongsong bahan bakar. Selongsong merupakan pembungkus bahan bakar yang terbuat dari logam campuran Zirkonium. Jika suhu meningkat hingga 900 derajat celsius, maka zirkonium akan teroksidasi oleh air sehingga menghasilkan hidrogen.

Alexander mengungkapkan, hingga saat ini belum jelas fenomena apakah yang terjadi. Namun, ia menduga bahwa hidrogen yang terakumulasi bereaksi dengan oksigen sehingga terjadi ledakan hidrogen. Hal tersebut menyebabkan ledakan di Fukushima 1 Unit 1. Kekuatan ledakan cukup kuat untuk meruntuhkan bangunan di sekitarnya, namun tidak sampai merusak selongsong pelindung reaktor.

Faktanya, ledakan terjadi di reaktor-reaktor tersebut setelah TEPCO (Tokyo Power Electric Company) mengalirkan air laut untuk mendinginkan reaktor secara langsung. Terjadinya ledakan juga disebut bagian dari proses pendinginan reaktor yang tidak membahayakan reaktor tersebut.

Radiasi dilaporkan telah mencapai Tokyo, tapi tidak membahayakan kesehatan manusia. Pejabat pemerintah Metropolitan Tokyo mengungkapkan, "Kami memantau tingkat radiasi yang melampaui batas normal terjadi pagi ini di Tokyo. Namun, kami tidak menilai bahwa hal itu sudah berada dalam level yang berbahaya bagi tubuh manusia."

Permbangkit listrik tenaga nuklir itu berada 250 kilometer timur laut Tokyo. Kantor Berita Kyodo juga melaporkan bahwa tingkat radiasi di kota Maebashi, 100 kilometer utara Tokyo, naik 10 kali lipat di atas batas normal.

Sumber: TRIBUNJOGJA.COM

25 January 2012

Thomas Alfa Edison

Pada masa kecilnya, Edison adalah anak dengan rasa keingin-tahuan yang tinggi. Namun dia adalah seorang pelajar yang tidak baik karena pikirannya sering melamun. Anak bungsu 7 bersaudara ini, dianggap "otak udang" oleh guru sekolahnya. Ketika ibunya tahu, ia sangat marah dan menariknya untuk keluar sekolah. Pada saat itu, Edison baru bersekolah selama 3 bulan. Setelah itu, ibu Edison sendiri yang mengajarinya di rumah.
Pada saat Edison beranjak 9 tahun, ibunya memberikan buku ilmiah tingkat sekolah dasar kepadanya. Buku itu adalah mengenai bagaimana melakukan eksperimen kimia di rumah. Edison terpancing: ia melakukan beberapa eksperi­men dari buku itu dan menghabiskan uangnya untuk membeli bahan - bahan kimia.
Pada saat berusia 10 tahun, Edison membangun lab pertamanya di kamar bawah tanah rumahnya. Biasanya ayahnya akan "menyuapnya" dengan sedikit uang agar Edison meninggalkan basement dan pergi membaca buku. Edison tentu saja menurut, tetapi ia juga menggunakan uang "suapan" ayahnya itu untuk membeli bahan - bahan kimia untuk eksperimennya.
Pada saat berumur 12 tahun, Edison mulai kehilangan pendengarannya. Ada yang mengatakan bahwa ada konduktor kereta api yang memukul telinganya ketika ia menyalakan api pada saat sedang bereksperimen di gerbong barang. Menurut Edison, ia terluka ketika konduktor tersebut menariknya ke kereta yang bergerak dengan menarik kupingnya.
Ada juga yang mengatakan penyebab gangguan pendengarannya itu adalah karena demam yang didapatnya semasa kecil. Namun juga sangat memungkinkan bahwa ia tuli karena faktor genetik, ayah dan salah seorang kakak Edison juga tuli.
Tetapi satu hal yang pasti; Edison menyukai keadaanya (secara teknis dia tidak tuli total, tetapi sulit untuk mendengar). la mengatakan bahwa keadaannya itu membuatnya lebih dapat berkonsentrasi pada eksperimennya.
Dan satu hal lagi: Edison memang memiliki lab di dalam gerbong kereta api yang akhirnya terbakar! Edison yang saat itu berusia 12 tahun kemudian bekerja dengan menjual koran dan permen. Dia membuat lab untuk eksperimen kimia dan percetakan di dalam bagasi mobil, dimana ia mempu-blikasikan Grand Trunk Herald, koran pertama yang dipublikasikan di atas kereta.
Di usia 14 tahun, Edison menyelamatkan Jimmie MacKenzie yang berumur 3 tahun dari gerbong kereta api yang sedang melaju cepat. Ayah Jimmie, agen stasiun bernama JU MacKenzie sangat berterima kasih sehingga dia mengajarkan Edison cara menggunakan mesin telegraph.
Setelah itu Edison menjadi operator telegraph untuk Western Union. Dia meminta bekerja shift malam agar dia masih memiliki waktu untuk melakukan eksperimen. Suatu hari ia tidak sengaja menumpahkan asam sulfur ketika sedang melakukan eksperimen dengan baterai. Cairan asam tersebut menembus lantai kayu dan sampai di meja atasannya di lantai bawah. Keesokan harinya, Edison dipecat.
Pada tahun 1869, Edison di usianya yang ke 22, mendapatkan paten pertamanya untuk mesin perekam suara telegrafik {telegraphic vote-recording machine) untuk badan legislatif. Pada saat rekan bisnisnya membawa penemuan tersebut ke Washington DC, ketua komite yang tidak terkesan dengan kecepatan alat itu melakukan rekaman mengatakan "apabila ada penemuan yang tidak kita inginkan di muka bumi ini, inilah penemuan itu." Sejak saat itu Edison memutuskan ia hanya akan menciptakan penemuan yang dapat dijual.
Pada Natal tahun 1871, di usianya yang ke 24 Edison menikahi pegawainya, Mary Stilwell (16 tahun) setelah 2 bulan berkenalan. Pada bulan Februari Edison gusar akan ketidak mampuan istrinya untuk menciptakan sesuatu. la kemudian menulis di atas buku hariannya "Mary Edison istriku tercinta tidak mampu menciptakan sesuatu apapun yang bernilai!" Mary melahirkan 3 orang anak, Edison memberikan panggilan "Dot" dan "Dash" untuk anak pertama dan keduanya (kemungkinan diambil dari sandi mere)
Dua tahun setelah Mary meninggal, Edison J menikahi Mina Miller yang saat itu berusia 201 tahun. Kisah pertemuannya sangat menarik:! setelah kematian Mary, Edison sering pergi kej Boston dan tinggal di rumah temannya, Mr. dan! Mrs. Gilliards. Keluarga Gilliards berusahai mengenalkan Edison kepada beberapa orang! gadis. Namun dengan penampilannya yang' setengah tuli, mata yang melotot, nafas bau dan ketombean yang selalu mendekatkan wajahnya kepada gadis - gadis itu agar ia bisa mendengar suaranya dengan jelas, seluruh gadis itu lari ketakutan!   Suatu   hari   keluarga   Gilliards memperkenalkan Edison kepada Mina Miller. Edison langsung jatuh hati.
Menurut kebijakan 1911 mengenai perusa-haan asuransi jiwa di New York, Edison memiliki; lima titik yang ditato di iengan kanannya. Tidak. ada yang tau apa maksud tato tersebut. Yang cukup menarik, Edison mendapatkan penghar-s gaan atas penemuan mesin tato yang pertama.
Setelah Wilhelm Conrad Rontgen mene-mukan X-ray pada tahun 1895, Edison mengarah-kan karyawannya, seorang bernama Clarence Dally untuk mengembangkan fluoroscope. Alat, tersebut merupakan sebuah sukses yang akhir-f nya digunakan dalam rumah sakit hari ini. Saat' itu X-ray tidak diketahui berbahaya dan Clarence memiliki kebiasaan untuk melakukan tes pada tangannya. Pada tahun 1900, ia memiliki luka yang tidak dapat disembuhkan, sehingga tangannya hams diamputasi. Kondisi Clarence semakin memburuk setelah kedua tangannya diamputasi, dan akhirnya ia meninggal karena kangker.
Pada 1887, ia memulai proyek yang di kemu­dian hari menjadi kegagalan besar. la meng-usulkan sebuah ide untuk menyaring besi dari logam berkualitas rendah yang langsung saja ditertawakan orang sebagai "kebodohan Edison." Edison yang keras kepala kemudian mengin-vestasikan uangnya sendiri untuk membangun sebuah pabrik dan desa untuk melakukan hal ini, tetapi beberapa tahun kemudian ia menyadari bahwa menambang bijih besi dapat dilakukan dengan biaya yang jauh lebih kecil.
Jadi, dengan seluruh peralatan berat yang tersisa dari kegagalannya, Edison memutuskan untuk masuk ke bisnis semen, la menemukan bahwa ia dapat membentuk semen menjadi berbagai bentuk dan berpendapat bahwa ia dapat membangun sebuah rumah dengan menuang semen ke dalam sebuah bentuk raksasa.

Sumber: Buletin mocopat syafaat

10 ilmuwan paling gila

Berikut 10 ilmuwan paling gila menurut LiveScience.com :
1. Albert Einstein
Parodi kartun dan komik tentang Einstein banyak dibuat hingga masa kini. Mulai dari rambutnya yang amburadul atau ekspresi wajahnya yang dibuat “melet” atau teorinya sekalipun. Tak bisa dibantah penemu teori relativitas ini sudah jadi selebriti dunia sains. Namanya bahkan identik dengan kata genius dan gila itu sendiri.
2. Leonardo da Vinci
Menyusul popularitas Einstein adalah Leonardo da Vinci. Novel Da Vinci Code, tokoh komik, isu bahwa ia gay adalah bukti bahwa seniman dan ilmuwan Italia ini memang sangat terkenal. Ia juga diketahui sangat nyentrik. Peninggalannya berupa tumpukan buku sketsa, aneka aplikasi teknologi, mesin, tetap abadi sepanjang masa.
3. Nikola Tesla
Kalau yang ini, namanya sempat dikenal sebagai sebuah kelompok musik rock. Sebenarnya sesuai, sebab penemu radio nirkabel dan generator AC inilah yang memulai era elektrik di akhir abad ke-19 dan awal abad 20. Tesla dianggap gila sebab berani mendemonstrasikan bagaimana ia memakai tubuhnya sebagai konduktor listrik.
4. James Lovelock
Dikenal sebagai ilmuwan berwawasan lingkungan dan penemu hipotesa Gaia. Konsep perubahan iklim yang kini diributkan banyak orang sudah diusungnya sejak beberapa dekade silam. Lelaki kelahiran 1919 ini pernah memprediksikan bahwa tahun 2100 akan terjadi kematian massal terhadap 80 persen umat manusia. Wow! Akan terbukti jugakah?
5. Jack Parsons
Jack Parsons dikenal sebagai salah satu pendiri Jet Propulsion Laboratory. Tapi sesungguhnya ia juga sibuk berlatih sulap dan menyebut dirinya Antikris. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal tapi mampu mengembangkan bahan bakar roket dan sukses mengantarkan Amerika Serikat ke angkasa pada Perang Dunia II. Tragisnya, Parsons menembak dirinya sendiri sampai mati di laboratoriumnya tahun 1952.
6. Richard Feynman
Ia adalah bagian dari tim genius pengembang bom atom. Feynman menjadi salah satu ilmuwan terpenting di akhir abad ke-20. Selain dikenal sebagai profesor, ia juga suka mengeksplorasi musik, alam dan mempelajari hiroglif suku Maya.
7. Freeman Dyson
Tahun 1960, Dyson menelurkan ide bahwa di masa depan manusia harus mendesain cangkang buatan yang dinamakan Dyson Sphere. Cangkang ini akan mengelilingi sistem tata surya dan menggunakan energi matahari secara maksimum. Saat itu ia dianggap sebagai pemimpi fiksi ilmiah. Ia juga yakin adanya kehidupan di planet lain. Menurutnya manusia akan berinteraksi dengan mahluk angkasa luar dalam beberapa dekade mendatang.
8. Robert Oppenheimer
Dijuluki sebagai bapak bom atom, lelaki kelahiran 1904 ini juga memiliki pandangan politik sosialis. Ia punya ketertarikan khusus pada kultur Hindu dan bahasa Sansekerta dan Belanda. Oppie, begitu pangilan akrabnya, senang mengutip kitab Bhagavad Gita.
9. Wernher von Braun
Di usia 12 tahun, Braun meledakkan gudang mainannya dengan kembang api. Dari situlah muncul ide mengembangkan roket. Akhirnya ia ditunjuk sebagai pempimpin program roket oleh Hitler. Ternyata ia juga meminati eksplorasi bulan dan antariksa. Di sela waktu luangnya Braun juga senang membaca filsafat dan sesekali bermain scuba diving.
10. Johann Konrad Dippel
Lahir dan besar di kastil Frankenstein, Jerman, Dippel dikenal sebagai penemu bahan kimia sintetis bernama Prussian Blue. Ia mengklaim pernah menciptakan cairan hidup abadi. Kabarnya, percobaannya itu terinspirasi oleh karakter yang sesuai dengan nama kastil tempat ia lahir, Franskenstein.

Sumber: http://www.friendster.com/bulletin.php?bid=104134390&uid=32720262

Pengertian Maiyah

Pengertian Maiyah

Pengertian Maiyah, Pengertian Maiyah di blog Maiyah ini diposting oleh Horiq Sobarqah 18 Oktober 2012. ( 5.0 )



pengertian maiyah


       maiyah berasal dari kata ma’a, yang artinya bersama, beserta Ma’iyyatullaah, kebersamaan dengan Allah. Ma’iyyyah itu kebersamaan, Ma’anaa bersama kita. Ma’iya, bersamaku. Lantas kata-kata dan bunyi Arab itu ‘kesandung’ oleh lidah etnik kita menjadi Maiya, atau Maiyah, atau Maiyahan (Andsisko dalam artikel “maiyah adalah.. (tafsir bebas).
       Mengutip dari Wikipedia, Maiyah berarti kebersamaan, pertama, melakukan apa saja bersama Allah. Kedua, bersama siapa saja mau bersama. Maiyah bisa berarti komitmen nasionalisme, kedewasaan heterogenisme, kearifan pluralisme, dan tidak ada kesenjangan ekonomi. Maiyah sendiri secara “kata” muncul dari untaian hikmah yang disampaikan oleh Ustadz Wijayanto, MA, dengan menyebut beberapa kalimat : “Inna ma’iya rabbi”, menirukan Musa AS. Untuk meyakinkan ummatnya bahwa Allah ada bersamanya. “La takhaf wa la tahzan, Innallaha ma’ana”, Jangan takut jangan sedih, Allah bersama kita. Tutur Muhammad SAW, tatkala dikejar-kejar oleh pasukan musuh, untuk menghibur dan memelihara iman Abu Bakar.
       Dalam pemahaman, menurut Pudji Asmanto, maiyah itu adalah kita sebagai manusia, belajar menjadi penduduk surga, bersama-sama menghadirkan surga di Dunia. Diyakini surga di akhirat sana adalah tempat tinggal makhluk-makhluk pilihan Allah yang sudah barang tentu adalah yang telah “teruji” keimanannya. Di Surga sana sudah tidak lagi ditemui apa yg kita sebut penyakit hati di antara penghuninya, tidak ada iri, dengki, sombong, tamak, egois, “kuasa”, dan apapun itu yang merupakan wujud sifat syetan. Nah maiyah itu ya belajar menjadi penduduk surga, bersama-sama hidup harmonis dalam keberagaman, meminimalisir penyakit hati dalam persinggungannya berinteraksi dengan sesama mahkluk ciptaan Allah di dunia.
       Tantangannya ke depan adalah bagaimana jujur ke dalam diri sendiri sebagai individu, dalam berinteraksi dengan individu lain sebagai makhluk social, sudahkah kita punyai kerendahan hati?. Kunci bermaiyah menurut saya adalah punyai kerendahan hati, tidak pandang bulu terhadap apapun dan siapapun, tidak timpang dalam memperlakukan apapun terhadap siapapun, bersama menghadirkan kebaikan. Kenapa kerendahan hati sebagai prasyarat utama? karena dengan kerendahan hati, setiap individu mampu menjaga diri dari lisan dan laku yang menyakiti hati orang lain. Bahkan, mengutip Juman Rofafif dalam artikelnya “Menjaga Perasaan”, Rasulullah SAW mengatakan bahwa yang disebut Muslim adalah orang yang mulut dan tangannya membuat orang lain merasa damai. Kata-katanya tidak menyakiti, perilakunya tidak melukai. Dua-duanya menjadi satu-kesatuan utuh untuk membentuk karakter Muslim sejati. Cak Nun pun pernah menguraikan bahwa seorang mukmin adalah, seseorang yang keber”ADA”annya tidak mengancam nyawa/jiwa, harta, dan harkat martabat orang lain.
       Dari pemaparan di atas, dipahami bahwa, melalui kerendahan hati setiap individu mampu menjaga diri dari lisan dan laku yang dapat menyakiti perasaan orang lain. Dengan kerendahan hati, maiyah akan menemukan bentuknya yang ideal. Namun pertanyaannya kemudian, sudahkah kita benar-benar bermaiyah? sudahkah kita mampu menjaga perasaan orang lain? Atau jangan-jangan, maiyah dilakoni hanya sebatas pemahaman saja? berhenti hanya sampai hajatan-hajatan ritual saja?. Dalam interaksi social kadang “kotak-kotak” itu tak sungguh-sungguh terlihat, tak disadari makin mengkotak, tak lain karena setiap individu pada dasarnya dalam persinggungan sosial, sering kali dihadapkan pada “ketidaksukaan” akan sesuatu hal, manusiawi memang. Namun justru di situ tantangannya, apakah kita mampu bermaiyah dengan sesuatu hal yang tidak kita sukai, tidak cocok, tidak sepaham, berbeda, atau apapun itu. Mari ke arah sana, bermaiyah dalam perbedaan, jadikan perbedaan sebagai input dalam proses bermaiyah, Jangan malah menjadikan perbedaan itu hal yang dapat menjauhkan kita dari konsep maiyah yang sesungguhnya.
Mari kita mengaplikasikan konsep maiyah yang ideal ini ke dalam ranah praktek, dimana maiyah tidak disikapi hanya sebagai “label”, tetapi meresap ke dalam hati, dipahami, digali, dan diaplikasikan, terutama untuk kita-kita yang sering meneriakkan konsep maiyah itu sendiri. Dengan cara bagaimana? tentu ini tak mudah dituliskan, namun akan lebih mengena jika dilakoni. Mari bersama-sama berlatih menjadi penduduk surga, hadirkan surga di dunia melalui kebersamaan, mari bermaiyah.


Menurut bangbang wetan -- komunitas maiyah dari surabaya:
Pengertian Maiyah
  1. Maiyah adalah di mana saja kita berada - di rumah, ditempat bekerja, di rumah ibadah maupun dipasar, dijalan dan di manapun saja - selalu kita bersama Alloh dan Rosululloh. Kapan saja kita sadar maupun tidur, di pagi hari, siang, sore, atau malam hari - selalu kita bersama. Maiyah adalah membangun perlawanan Badar yang sabardan berilmu matang terhadap segala tindakan membangun rumah-rumah yang menjauhkan manusia dari Alloh dan Rosululloh, terhadap konsep pasar dunia yang menyepelekan Alloh, terhadap manajemen penataan kehldupan yang mendhalimi Alloh dan Rosululloh.
  2. Maiyah adalah dengan siapapun saja kita berada - dengan keluarga, dengan teman-teman, dengan masyarakat, bahkan ketika kita sedang berada di tengah makhluk-makhluk Alloh yang memusuhi kita - selalu kita bersama Alloh dan Rosululloh.Maiyah adalah perlawanan Badar yang sabar dan berilmu matang terhadap segala kekuasaan yang tidak menghadirkan Alloh dan Rosululloh didalam bangunan kelarga-keluarga manusia, didalam peta pergaulan masyarakat.
  3. Maiyah adalah apapun yang kita alami- kegernbiraan atau kesedihan, kekayaan atau kemiskinan, kesepian atau tidak kesepian, di kesunyian atau di keramaian, dalam keadaan sehat atau sakit, dalam kekalahan atau kemenangan - selalu kita bercama Alloh dan Rosululloh. Maiyah adalah pedawanan Badar yang sabar dan berilmu matang terhadap segala macam sistem dan ideology kehidupan yang membangun kesedihan manusia, yang rnemiskinkan manusia di tengah luasnya rahmat dan rizqi Alloh, yang mengucilkan kemanusiaan, yang menyakiti dan menyakitkan manusia, yang memenangkan energy setan dan menindas Rahman Rahim Alloh didalam bangunan negeri dan negara manusia.
  4. Maiyah adalah apapun sebab-sebab kehidupan yang menimpa kita - ketika dijunjung atau dicaci, ketika dipuji atau dihina, ketika ditemani atau dikucilkan, ketika diangkat atau dijatuhkan, ketika disayang atau tak diperdulikan, ketika disapa atau diacuhkan, ketika diberi atau dicuri- akibatnya hanya safu: ialah selalu kita bersama Alloh dan Rosululloh. Maiyah adalah perlawanan Badar yang sabar dan beilmu matang terhadap segala jenis kebudayaan, segala jenis benda teknologi, sastra dan lagu, kesenian dan kerajinan, berita dan hiburan - yang menjunjung kebodohan dan mencaci ilmu, yang memuja kekonnyolan dan melecehkan derajat manusia, yang membiayai besar-besaran kehinaan nilai, yang menghancurkan kehormatan makhluk Alloh, yang mencuri Rahmat Alloh untuk kepentingan sendiri.
  5. Maiyah adalah apaun yang kita jumpai atau menjumpai kita - batu, air langit, dedaunan, cahaya, kegelapan, kaca, keburaman, peristiwa, sejanah, revolusi dan amuk, peluru, otoritas yang memalsukan kekuasaan Tuhan, angin, nafas dan seluruh badan kita sendiri - rnembawa kita untuk selalu bersama Alloh dan Rosululloh. Maiyah adalah perlawanan Badar yang sabar dan berilmu matang terhadap segala bentuk kekuasaan dan pemerintahan yang memperlakukan alam dan kehidupan manusia untuk makar kepada kehendak suciAlloh yang diinformasikan melalui Rosululloh.
  6. Maiyah adalah apapun yang mengepung kita dan menyerbu kita - roh halus, jin setan, energy liar, santet dan tenung, dzat-dzat makar, rudal, kelicikan penguasa, kesombongan cendikiawan, getarangetaran kejahatan dalam ilmu dunia dan kendaraan informasi, nafsu kaum munafiqin, tipuan kaum musyrikin dan Eyuan kaum dholimin – tidak mengakibatkan apa-apa kecuali istiqamah kebersamaan kita dengan Alloh dan Rosululloh.Maiyah adalah perlawanan Badar yang sabar dan ilmu matang untuk membangun Daulah Maiyatullah, kebersamaan dengan Alloh dan Rosululloh, kerajaan syukur kepada Alloh dan pemerintahan terima kasih kepada Rosululloh, beriringan dengan idzinillah dan qudntillah membaur seluruh alam dan kehidupan manusia bersama Rosululloh untuk bertasbih dan bersujud kepada Alloh.

Maiyah- Luasan

Maiyah Putih
       Warga Kiai Kanjeng Sepuh berkeliling ke mana-mana, ke rumah-rumah masyarakat, ke alun-alun, lapangan masjid atau kelurahan, gedung olah raga, jalan raya, trotoar atau dimana pun saja: melakukan ma'iyahan- Bercelana putih, berbaju putih, bertutup kepala putih. Belum tentu karena mereka orang"alim (istilah ini sungguh menggelikan), religius, rajin shalat, suntukwiridan. Pakaian putih-putih itu bukan kostum pentas, dan sama sekali tidak diperuntukkan bagi siapa pun yang melihatnya. Pakaian putih itu mereka peruntukkan bagi diri mereka sendiri. Mereka itu orang-orang yang mengerti bahwa hidup mereka masih kotor, masih banyak dosa dan maksiat, kepada rnanusia maupun maksiat kepada Alloh. Maka mereka
memerlukan dorongan dan rangsangan untuk melaukan proses pembersihan diri "reresik'. Maka putih-putih itu mereka tujukan kepada suasana hati dan konsentrasi pikiran mereka sendiri, agar kalau bisa jangan menerus-neruskan yang kotor-kotor, yang belum tentu baik dan benar, yang tidak sejati dan tidak abadi.
Jadi benar-benar pakaian putih itu bukan show costume bagi para penonton atau siapapun, melainkan untuk dirinya sendiri. Kalau pun kepada Tuhan mereka persembahkan putih-putih itu, bukan untuk melaporkan kesucian, melainkan justru untuk mengakui kehitaman.

Maiyah Bunyi
       Mereka membara alat-alat musik dan bernyanyi-nyanyi, terkadang berteriak-teriak, disaat lain menggeremang atau bahkan memekik. Apa gerangan yang mereka bunyikan? Nyanyian-nyanyian bersama kepada Allah swt. Tidak kita sebut untuk Allah swt. Sebab kalau bernyanyi kepada Allah swt, bisa kita lakukan dimana saja tanpa harus menghadap Allah swt, asal nyanyiannya kita peruntukkan bagi Allah swt. Kata kepada dipilih untuk menggambarkan dinamika proses, suluk -menempuh perjalanan rohaniah - menuju atau kepada Allah swt. Jadi tatkala mereka memekik-mekik, sesungguhnya hati mereka berlari sekencang-kencangnya ke keharibaan Allah swt - tentu dengan rasa malu yang sangat atas banyak dosa- dosa.
Kenapa shalawatan, wiridan, berdzikir, mengaku dosa kok pakai musik? Karena manusia itu khalifaftullooh, mandataris yang ditunjuk oleh Allah swt untuk mengurus dirinya sendiri dan alam semesta. Khalifah itu pengelola, manager, direktur kehidupan, eksekutif badan pelaksana.
Para khalifah alias direktur-direktur ini menentukan apakah saron dibunyikan untuk mengiringi tayuban atau memperindah pemyataan cinta kepada Allah swt. Mereka yang mengambil keputusan apakah biola digesek, keyboard dipencet, seruling ditiup, perkusi ditabuh, terbang ditampar - untuk memeriahkan tarian atau lagu-lagu yang tidak terjamin keamanannya di depan pandangan nilai Allah swt, ataukah dipakai untuk memperasyik lagu pujian-pujian atas
keagungan Allah swt. Tentu saja, asalkan jangan lantas orang adzan diiringi biola, orang sholat ditabuhi pakai gendang, orang thawaf diiringi genderang massal.

Mai'yah bukan ibadah mahdloh. la hanya kegiatan budaya yang menggali inspirasi dari Agama. la hanya mereligiuskan pelaku budaya. la hanya aktivitas sosial budaya yang tidak merelakan dirinya kalau hanya diperuntukkan buat yang bukan Allah. Karena Sabbaha lillahi maa fis samaawaati wa maa fil ard, seluruh makhluk yang dilangit dan di bumi ini bertasbih kepada Allah sr*t. Dan para khalifah Kiai Kanjeng Sepuh tahu, bahwa yang bertasbih kepada Allah itu bukan Jin dan Manusia, tapi juga benda-benda, saron, biola, seruling, terbang, bahkan capung, rumput, daun-daun kering. Bukankah Allah tidak menggunakan kata man fis samaawaati, nelainkan maa fis samaawaati.

Maiyah Kata
       "lnna ma'ya Robbi", tutur Musa, Nabi alaihissalaam, untuk meyakinkan ummatnya bahwa Allah ada bersamanya. Muhammad Rasululaah saw, juga menggunakan kata sama - di gua Tsur, tatkala dikejar-kejar oleh pasukan musuh -untuk menghibur dan memelihara iman Abu Bakar, sahabat beliau, Sayyid kita Rodlialloohu 'anhu : "La takhof wa la tahzan, innalloha ma'anaa". Jangan takut jangan sedih, Allah ada menyertai kita.
Jadi, asal usulnya dan ma'a. artinya, dengan, bersama, beserta. Ma'iyyatullaah, kebersamaan dengan Allah. Ma'iyyyah itu kebersamaan, Ma'anaa bersama klh. Ma'iya, bersamaku. Lantas kata-kata dan bunyi Arab itu 'kesandung' oleh lidah etnik kita menjadi Maiya, atau Maiyah, atau Maiyahan. Mengenai lbu Bapakmu, hal anak cucu para keponakan dan sanak famili, tentu kau ucapkan lnnahum ma'tya, sesungguhnya (mereka) bersamaku. Bersamaku artinya bukan ke mana-mana ubyang-ubyung bareng, makan bareng, mandi bareng. Maknanya substansial, haqiqiyyah. Kalau engkau bersamaku berarti engkau adalah bagian dari hatiku.
Engkau adalah salah satu semt-serat dari struktur perasaanku. Kalau engkau riang, aku gembira. Kalau engkau berduka, aku menderita. Kalau engkau disakiti, aku mengaduh. Kalau engkau disengsarakan, aku menangis. Kalau engkau ditimpa masalah, itu juga masalahku. Kalau engkau memerlukan, aku mengupayakan pemenuhan. Kalau engkau membutuhkan, aku mengusahakan keberesan. Engkau dan aku sayang menyangi, kasih mengasihi, tolong menolong, bela membela satu sama lain.

Maiyah Sosial
       Kepada teman-teman, kepada para tetangga, kepada sesama ummat, masyarakat, warga negara, sesama manusia, apapun saja sukunya, bangsanya, golongannya, kelompoknya, organisasinya, kepercayaan dan pendapatnya – tidak layakkah, atau bahkan tidak seyogyanyakah, atau siapa tahu tldak haruskah - engkau dan aku ucapkan dan ikrarkan juga: : Innahum ma'iya, sesungguhnya mereka semua ada bersamaku, dan sesungguhnya aku ada bersama mereka?

Kiai Kanjeng Sepuh berkeliling ke mana-mana, menembus berbagai sisi, segmen, lapisan, golongan, wilayah, daerah, dan jenis sosiologis masyarakat untuk menumbuhkan pertanyaan dan kesadaran inna ma'iya semacam itu.

Adakah dengan tetanggamu, masyarakat dan bangsamu, engkau tidak bersedia tolong menolong, melainkan mengancam? Tidak bersedia saling setia, melainkan saling khianat? Tidak mau saling membela, melainkan saling menghancurkan? Tidak siap saling ikhlas melainkan saling tidak rela? Tidak saling mengharapkan kebahagiaan bagi yang lain, melainkan diam-diam mensyukuri penderitaan mereka?

Maiyah Bahasa
       Bahasa kenegaraan Maiyah itu nasionalisme. Bahasa mondialnya universalisme. Bahasa peradabannya pluralisme. Bahasa kebudayaannya heterogenisme, atau kemajemukan yang direlakan, dipahami dan dikelola. Metode atau manegemen pengelolaan itu namanya demokrasi.

Bahasa ekonomi Maiyah adalah tidak adanya kesenjangan penghidupan antara satu orang atau suatu kelompok dengan lainnya. Tapi ini terlalu ideal dan utopis: jadi mungkin lebih realistis kita pakai ungkapan Maiyah adalah proses dinamis menyempitnya atau mengecilnya jarak atau kesenjangan penghidupan di antara manusia. Diproses secara sistemik-kolektif jangan sampai ada yang terlalu kaya sementara lainnya terlalu fakir. Kadar maiyah semakin tinggi dan kualitatif berbanding lurus dengan semakin mengecilnya kesenjangan itu. Di dalam teori Maiyah nasionalisme, selalu ditemukan adanya banyak pihak, ada banyak wajah, ada banyak wama, ada banyak kecenderungan dan pilihan. Masing-masing pilihan itu menggunakan wamanya sendiri-sendiri, wajahnya sendiri-sendi dan kecenderungan sendiri-sendiri. Setiap mereka menghidupi dan menampilkan dirinya masing-masing. Sehingga pada semuanya tampak sebagai bhinneka. Berbagai perbedaan itu tidak membuat mereka berperang satu sama lain, karena diikat dan prinsip ke-ika-an, yakni komitmen kolektif untuk saling menyelamatkan dan menyejahterakan. Demikianlah berita gembira berdirinya Republik lndonesia dulu. Sikap Maiyah di antara berbagai pilihan itu adalah kesepakatan untuk saling menyetorkan kebaikan dan kemashlahatan untuk semua.

Di era sejarah orde baru, berlangsung policy politik nasional atau strategi kebudayaan di mana para 'masing-masing' itu dilarang rnenunjukkan kemasing-masingannya. Maksudnya baik, orang jangan menonjolkan siapa dirinya, bagaimana wajahnya dan apa wamanya. Semua dipersatukan, diseragamkan, identitas masing-masing disembunyikan semaksimal mungkin. Ode baru berprinsip Tunggal Ika.

Maiyah adalah Bhinneka Tungga lka. Yang Batak ngomonglah dengan logat Batak. Yang Bugis ya dialek Bugis. Yang Madura ya cengkok Madura. Tak ada perlunya ditutup tutupi, sepanjang ada kesepakatan untuk saling melindungi, saling menyayangi dan memproses tujuan kebahagian bersama.

Yang Budha, berpakaianlah Budha. Yang Katholik, Katholiklah. Yang lslam lslamlah. Omswastiatu tak usah diganti Padamu Negeri. Haleluya tak usah diganti Tanah Tumpah Darahku. Shalaatullaah salaamullaah tak usah diganti lbu Kita Kartini- Heterogenitas itu cukup dijaga oleh satu prinsip: saling memperuntukkan dirinya bagi kebersamaan. ltulah Maiyah.


Maiyah Lingkaran
       Dulu Kiai Kanjeng pentas dan diletakkan di panggung. Mereka ditonton oleh penonton. Kiai Kanjeng Sepuh yang bermaiyah tidak berada di panggung dan tidak ditonton oleh siapa-siapa.
Mereka melingkar, sehingga terserah orang lain akan bergabung menciptakan lapisan-lapisan lingkaran berikutnya atau tidak. Kiai Kanjeng Sepuh tidak mempertunjukkan musik dan suaranya kepada penonton. Mereka hanya bemyanyi, bersholawat, benrwirid, membaca puisi, atau apapun, tetapi yang ada di hadapan mata kesadaran mereka adalah Alloh Swt. Maka pada kebanyakan momentum selama ber-maiyah, tak seorangpun di antara mereka yang tidak memejamkan mata. Karena mata wadag hanya sanggup melaporkan penglihatan tentang hal-hal yang sepele: materi, benda-benda, gedunng-gedung, lembaran-lembaran uang, kecantikan wanita dan kegantengan lelaki, menara pencakar langit. Dan itu semua bersifat sementara dan sangat gambar hancur.

Kiai Kanjeng Sepuh serak-serak suaranya untuk Alloh . habis bunyinya untuk mencintai-Nya. Bemyanyi, membunyikan alat musik, berkeringat, untuk memelihara hubungan dengan Alloh. Karena Alloh sebagai pengasuh, penyantun, tempat bergantung - tidak bisa diperbandingkan dengan polisi, tentara, menteri ekuin, presiden, pemerintahan, konglomerat, distribusi modal atau apapun saja yang dituhankan oleh sangat banyak orang.

Alloh swt berjanji kepada kekasih-Nya untuk menjalankan empat fungsi, asalkan oleh para kekasih-Nya dibeli dengan taqwa dan tawakkal. Peran pertama, Alloh swt sebagai pemberi jalan keluar, solusi atas masalah apa saja: coba sebutkan satu masalah yang Alloh tidak sanggup menyelesaikan!

Peran kedua Alloh sebagai penabur rizqi melalui jalan, cara, metoda dan modus yang semau-mau Dia. Sehingga para kekasih-Nya tidak bisa menduga atiau memperhitungkannya. Para kekasih Alloh swt tinggal terima jadi, terima matang - anugerah rejeki yang mereka beli dengan *mata uang" taqwa dan tawakkal. Ah, apa sih taqwa? Angen-angen Alloh kapan saja. Menjadkan Alloh sebagai tuan rumah batin kita. Tawakkal adalah taqwa yang diperdalam, ditancapkan, dihujamkan terus menerus.

Peran ketiga Alloh swt sebagai manager dan akuntan. Kalau berasmu menipis, jangan memfitnah dengan mengganggap Alloh swt bersikap acuh tak acuh atas keadaan dapurmu itu. la managermu, ia atur nafkahmu, ia jamin penghidupan keluargamu. Engkau cukup menyetor taqwa dan tawakkal.

Peran keempat Alloh swt adalah menjadi humasmu, public relation-mu. Keperluanmu atas seseorang atau suatu pihak, kebutuhanmu terhadap akses ini atau itu, disampaikan oleh Alloh kepada yang bersangkutan. Engkau cukup memberi "honor” taqwa dan tawakkal.


Sekian tentang Paparan tentang Pengertian Maiyah semoga bermanfaat..